Posts tagged ‘Etos Kerja’
Mengecek Hasil Pekerjaan Sendiri
Seorang anak lelaki masuk ke sebuah apotek, menarik peti minuman dan meletakkannya di dekat telepon umum. Ia naik ke atasnya sehingga dapat mencapai tombol-tombol yang ada pada telepon. Lalu mulailah ia menekan tombol sampai tujuh digit. Saya menyimak percakapannya.
Ia berkata, “Bu, apakah Anda membutuhkan bantuan untuk membersihkan kebun Anda?”
Wanita di telepon itu menjawab, “Saya sudah membayar seseorang untuk membersihkannya.”
“Bu, Anda dapat membayar saya setengah harga saja.”
Sepertinya wanita itu sudah puas dengan hasil kerja dari orang tersebut.
Namun anak itu tak kenal putus asa dan menawarkan, “Bu, saya juga akan menyapu pinggiran jalan dan trotoar rumah Anda, sehingga pada hari Minggu nanti Anda akan memiliki halaman terindah di North Palm Beach, Florida.”
Lagi-lagi wanita itu menolak.
Dengan senyum, anak itu meletakkan gagang telepon.
Sang pemilik apotek menghampiri anak itu dan berkata, “Nak, saya suka sikapmu itu. Saya mengagumi semangat yang kaumiliki. Bagaimana kalau kamu bekerja untuk saya saja?”
Anak itu menjawab, “Tidak, Pak. Terima kasih. Sebenarnya saya hanya mengecek hasil pekerjaan saya sendiri.”
Temukan Cinta Dalam Pekerjaan Anda
Bila anda tak mencintai pekerjaan anda, maka cintailah orang-orang yang bekerja di sana.
Rasakan kegembiraan dari pertemanan itu dan pekerjaan pun jadi menggembirakan.
Bila anda tak bisa mencintai rekan-rekan kerja anda, maka cintailah suasana dan gedung kantor anda.
Ini mendorong anda untuk bergairah berangkat kerja dan melakukan tugas-tugas dengan lebih baik lagi.
Bila toh anda juga tidak bisa melakukannya, cintai setiap pengalaman pulang pergi dari dan ke tempat kerja anda.
Perjalanan yang menyenangkan menjadikan tujuan tampak menyenangkan juga.
Namun, bila anda tak menemukan kesenangan di sana, maka cintai apa pun yang bisa anda cintai dari kerja anda: tanaman penghias meja, cicak di atas dinding, atau gumpalan awan dari balik jendela.
Apa saja.
Bila anda tak menemukan yang bisa anda cintai dari pekerjaan anda, maka mengapa anda ada di situ? Tak ada alasan bagi anda untuk tetap bertahan. Cepat pergi dan carilah apa yang anda cintai, lalu bekerjalah di sana. Hidup hanya sekali. Tak ada yang lebih indah selain melakukan dengan rasa cinta yang tulus.
Imbalan Yang Setimpal
Pada suatu hari, ayahku menyewa tiga orang pemuda untuk membantunya menyimpan panen jerami. Sorenya, dia mengumpulkan ketiganya untuk memberikan upah.
“Berapa yang harus dibayar, John?” tanya ayah kepada pemuda pertama yang dipekerjakannya.
“55 dolar, Pak Burres,” jawab John. Ayah menuliskan cek senilai 55 dolar untuknya. “Terima kasih atas jerih payahmu, John,” kata ayahku dengan hormat.
“Berapa yang harus kubayar, Michael?” tanya ayah kepada pemuda kedua, yang jumlah jam kerjanya sama dengan John.
“Anda harus membayar 75 dolar”, kata Michael.
Dengan terkejut, ayahku bertanya perlahan, “Bagaimana cara menghitung sampai jumlahnya sebegitu, Michael?”
“Begini”, kata Michael, “saya menghitung sejak saya masuk ke dalam mobil untuk berangkat ke tempat kerja, sampai saya tiba di rumah, ditambah bensin dan uang makan”.
“Uang makan – meskipun makanan sudah disediakan?”
“Yep”, jawab Michael.
“Oh, begitu”, kata ayahku sambil menuliskan cek senilai 75 dolar yang diminta.
“Kalau kau bagaimana, Nathan?” tanya ayah. “Berapa yang harus kubayar?”
“Bapak bayar 38 dolar dan 50 sen, Pak Burres,” kata Nathan.
Sekali lagi ayahku kaget pada perbedaan jumlah yang diminta. Pemuda ketiga ini, seperti dua yang lain, dipekerjakan untuk pekerjaan yang sama dan telah bekerja sejumlah waktu yang sama (dan berasal dari kota kecil yang sama, yang hanya beberapa mil jauhnya). Ayahku meminta penjelasan.
“Dan bagaimana kau menghitung sampai jumlahnya sebegitu, Nathan?”
“Yah”, kata Nathan, “saya tidak minta upah untuk waktu istirahat siang, karena istri Bapak memasak dan menyiapkan makan siang. Saya tidak bayar bensin karena saya datang bersama teman-teman saya. Jadi jumlah jam kerja saya cukup untuk diberi upah 38,50 dolar.”
Ayahku lalu menuliskan cek senilai 100 dolar.
Ayah lalu memandang ketiga pemuda itu, yang terdiam oleh perbuatan ayahku, semua agak bingung dengan jumlah yang berbeda dalam cek mereka masing-masing.
“Saya selalu membayar orang sesuai dengan nilainya, Nak. Dari tempat asalku, kami menyebutnya imbalan yang setimpal.” Dia memandang ketiga pemuda di hadapannya dengan bijak, dan dalam gaya kebapakannya yang khas menambahkan, “Nilai-nilai dalam diri seseorang menciptakan nilai orang tersebut.”
Seorang Buruh
Aku bukan orang yang suka menguping percakapan orang lain. Tapi pada suatu malam, sewaktu aku melintasi halaman rumah kami, aku ternyata melakukannya. Istriku sedang berbicara kepada anak bungsu kami selagi ia duduk di lantai dapur. Jadi aku berhenti untuk mendengarkan di luar pintu belakang. Sepertinya ia mendengar beberapa anak menyombongkan pekerjaan ayah mereka. Bahwa semuanya para eksekutif hebat …… lalu mereka bertanya pada Bob, anak kami, “Papamu memiliki karier bagus macam apa?” mulailah mereka bertanya. Bob menggumam perlahan sambil memalingkan muka, “Ia hanya seorang buruh”.
Istriku yang baik menunggu sampai mereka semua pergi, lalu memanggil masuk putra kami. Katanya, “Mama ingin bicara sama kamu, Nak” seraya mencium pipinya yang berlesung pipit. “Kamu bilang, papamu hanya seorang buruh, dan apa yang kamu katakan itu betul. Tapi Mama ragu, apakah kamu tahu apa artinya yang sebenarnya, jadi Mama akan menjelaskan padamu.”
“Dalam seluruh industri yang membuat negeri kita hebat dalam semua toko dan warung dan truk yang menarik muatan setiap hari…. Setiap kali kamu melihat rumah baru dibangun, ingatlah, anakku. Diperlukan seorang buruh biasa untuk menyelesaikan pekerjaan besar itu!”
“Kalau semua bos meninggalkan meja mereka dan libur selama setahun. Roda industri masih bisa berjalan berputar dengan cepat. Jika orang seperti papamu berhenti bekerja, industri itu tak bisa berjalan. Perlu seorang buruh biasa untuk menyelesaikan pekerjaan besar itu!”
Aku menelan air mata dan berdeham saat memasuki pintu. Mata putra kecilku berbinar gembira saat ia melompat dari lantai. Ia memelukku sambil berkata, “Hai, Pa, aku bangga jadi anak Papa …. Karena Papa adalah satu dari orang-orang istimewa yang menyelesaikan pekerjaan besar.”
Tong Sampah
Seorang pria tua yang bijak memutuskan untuk pensiun dan membeli rumah mungil dekat sebuah SMP. Selama beberapa minggu ia menikmati masa-masa pensiunnya dengan tenang dan damai. Kebetulan saat itu sedang masa liburan sekolah.
Tak berapa lama kemudian, masa sekolah tiba. Dan, sekolah itu pun penuh dengan anak-anak. Suasana tenang dan nyaman menjadi sedikit berubah. Namun yang paling menjengkelkan pak tua adalah, setiap hari ada tiga anak laki-laki lewat di depan rumah yang suka memukuli tong sampah yang ada di pinggir jalan. Mereka membikin keributan sepanjang hari dan berulah seolah-olah menjadi pemain perkusi hebat. Begitu terus dari hari ke hari.
Sampai akhirnya pak tua merasa harus melakukan sesuatu pada mereka. Keesokan harinya, pak tua keluar rumah sambil tersenyum lebar menghampiri tiga anak laki-laki yang sedang asyik memukuli tong sampah. Ia menghentikan permainan mereka, dan berkata, “Hai, anak-anak! Kalian pasti suka bersenang-senang. Saya suka sekali dengan cara kalian bersenang-senang seperti ini. Sewaktu saya masih kecil, saya juga suka bermain-main seperti kalian. Nah, apakah kalian mau saya beri uang?” “Mau.. mau..” sahut ketiga anak itu serempak. “Okay, begini,” pak tua itu tersenyum. Lalu ia mengeluarkan tiga lembar uang ribuan dari sakunya. Katanya, “Masing-masing dari kalian saya beri uang seribu. Tapi kalian harus berjanji mau bermain-main di sini dan memukuli tong sampah ini setiap hari.” Anak-anak itu senangnya luar biasa. Sejak itu setiap hari mereka “bekerja”memukuli tong sampah itu dengan penuh semangat.
Beberapa hari kemudian, pak tua itu menghampiri dan menyambut “pekerjaan” mereka dengan penuh senyum. Namun kali ini senyumnya tampak agak sedih. Katanya, “Nak, kalian tahu khan situasi krisis akhir-akhir ini membuat uang pensiun saya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.” Ia menarik nafas dalam-dalam. Anak-anak itu menunggu apa yang diucapkannya. Lanjut pak tua. “Mulai hari ini saya hanya bisa membayar kalian lima ratus saja untuk tugas kalian memukuli tong sampah ini.” Anak-anak itu tampak kecewa dengan keputusan pak tua, namun mereka masih bisa menerimanya. Lalu mereka melanjutkan tugas mereka membuat keributan sepanjang hari.
Beberapa hari kemudian, pak tua itu dengan wajah memelas mendekati anak-anak yang sedang memukuli tong sampah. Katanya, “Maaf, bulan ini saya belum menerima kiriman uang pensiun. Saya hanya bisa memberi kalian bertiga seribu Rupiah saja.”
“Apa..? Seribu untuk bertiga?,” protes pemimpin pemain tong sampah itu. ” Apa pak tua kira kami ini mau menghabiskan waktu kami di sini hanya untuk uang segitu? Ah, yang benar saja! Pak tua ini tidak masuk akal. Mulai hari ini kami tidak mau lagi melakukan tugas ini lagi. Kami keluar.” Ketiga anak lelaki itu pergi meninggalkan pak tua itu dengan bersungut-sungut.
Dan, sejak hari itu pak tua menikmati ketenangan hingga akhir hayatnya.
***
Begitulah bila kita mencampur-adukkan kegembiraan hati dengan “uang gaji”. Seringkali kita kehilangan keceriaan hanya karena kita menganggap “keceriaan” itu adalah sebuah pekerjaan yang dibayar, maka bila “bayarannya” berkurang maka kesenangan pun jadi berkurang.
Jangan sampai kegembiraan anda menghilang di balik beberapa lembar uang gajian belaka.
Komentar Terbaru