Posts tagged ‘Kebiasaan’

Kebiasaan

Aku adalah teman sejatimu.

Aku adalah penolongmu yang paling hebat, Juga adalah bebanmu yang paling berat.

Aku akan mendorongmu maju atau menyeretmu kedalam kegagalan.

Aku sepenuhnya tunduk pada perintahmu.

Sembilan puluh persen hal yang kamu perbuat boleh kamu serahkan kepadaku dan aku akan dapat mengerjakan secara cepat dan tepat.

Aku mudah diatur, tunjukkanlah kepadaku bagaimana persisnya kamu menghendaki sesuatu dikerjakan dan setelah beberapa kali aku akan mengerjakannya secara otomatis.

Aku adalah hamba semua orang hebat dan sayangnya juga hamba semua orang pecundang.

Aku bukan mesin, walaupun aku bekerja dengan presisi mesin ditambah intelegensi manusia.

Kamu bisa menjalankan aku demi meraih keuntungan atau malah hancur, tidak ada bedanya bagiku.

Ambillah aku, latihlah aku, bersikaplah tegas terhadapku, maka aku akan menempatkan dunia dibawah kakimu.

Bersikap longgarlah terhadapku maka aku akan menghancurkanmu.

Siapakah aku?

Aku adalah “Kebiasaan”.

December 8, 2009 at 12:10 am Leave a comment

Rantai Gajah

Seorang pawang gajah pernah bercerita bahwa gajah harus dilatih sejak masih kecil dan lemah. Pertama-tama kaki bayi gajah diikat dengan rantai baja yang kuat pada sebuah totidak yang kokoh. Gajah hanya bisa berjalan sejauh panjang rantai. Jika ia berusaha melarikan diri, rantai baja akan menahannya. Biasanya ia akan mencoba memutuskan rantai itu dengan menariknya kuat-kuat, namun ia masih terlalu lemah untuk bisa mengalahkan kekuatan rantai baja.

Ini berlangsung selama bertahun-tahun sampai tertanam dalam benak gajah bahwa ia takkan pernah mampu memutuskan rantai yang mengikat kakinya. Dengan demikian sang pawang bisa membawa gajah bekerja di ladang dan hutan tanpa khawatir melarikan diri.

Lalu, apalah bedanya rantai baja dengan tali ijuk, bila sang gajah tetap saja menganggap dirinya takkan mampu mengalahkan apa yang mengikat kakinya?

Apakah hal ini terjadi pada hidup kita? Jika selama ini kita membiarkan diri terbelenggu pada pengalaman masa lalu, tanpa sedikit pun ada keberanian untuk menginsafinya, maka jangan salahkan siapa-siapa jika kita takkan pernah mampu melepaskan diri dari penyesalan.

December 7, 2009 at 11:46 pm Leave a comment

Sindrom Kodok

Ini merupakan hasil nyata percobaan ilmiah di laboratorium yang amat sederhana. Seekor kodok ditest reaksinya dalam menghadapi dua bejana yang berbeda pengkondisian suhu airnya. Bejana A berisi air dengan suhu tetap 70 Derajat Celcius. Ke dalam bejana ini, si kodok dicemplungkan begitu saja ke dalam air.

Akibatnya, sang kodok bereaksi cepat sekali dengan langsung melompat ke luar bejana, menyelamatkan diri.

Sementara, bejana B berisi air dengan suhu kamar sekitar 25-26 derajat Celcius. Si kodok yang tadi menyelamatkan diri itupun dimasukkan ke dalam bejana B, dan dia merasa nyaman di dalamnya, jadi tak perlu menyelamatkan diri. Pada saat kodok masih berada dalam bejana B, airnya dipanaskan secara perlahan. Pada suhu 35 derajat, kodok masih tetap bertahan di dalam air, demikian juga pada suhu 40, 45, 50, 55, 60, 65 dan seterusnya secara perlahan sekali sampai pada suhu 70 derajat celcius, sang kodok masih tetap berada di dalam bejana. Akhirnya, beberapa waktu kemudian didapati sang kodok telah mati terebus dalam bejana B tersebut, pada suhu yang sama persis dengan air yang terdapat dalam bejana A tadi.

Mengapa demikian? Mengapa pada bejana A yang bersuhu tetap 70 derajat Celcius sang kodok langsung sontak melompat keluar menyelamatkan diri, sementara di bejana B yang secara bertahap dipanaskan sampai bersuhu 70 derajat, dia tidak menyelamatkan dirinya?

Penjelasan ilmiahnya adalah, tubuh kodok secara reaktif menyesuaikan diri dengan suhu di  ingkungannya, bahkan sampai kondisi panas yang ekstrim sekalipun. Tubuhnya secara otomatis terus berusaha menyesuaikan diri dengan suhu lingkungannya, dan pada akhirnya dia terlambat sadar bahwa dirinya telah terebus. Sang kodok terlambat untuk menyelamatkan diri dengan cara keluar dari bejana B.

Akibat proses ini, sang kodok terlambat menyadari bahwa proses reaktif penyesuaian tubuhnya terhadap kondisi lingkungan telah menyeretnya kepada kematiannya sendiri.

Inilah yang saya sebut sebagai Sindrom Kodok.

December 7, 2009 at 2:13 am Leave a comment

Pertunjukan Akhir

Kadang-kadang dosa terlihat tidak membahayakan. Kita merasa tidak terganggu dan dapat mengendalikannya. Bahkan kita merasa bahwa kita sudah terlatih untuk mengatasinya. Tetapi pada kenyataanya, apabila dosa itu telah mulai melilit hidup kita, sukar dapat melepaskan diri lagi daripadanya.

Continue Reading December 2, 2009 at 12:53 am Leave a comment


Wisdom of The Month

Untaian Motivasi & Inspirasi

Hari-Hari yang Berharga

June 2012
M T W T F S S
« Apr    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Jumlah Kunjungan

  • 4,778 Kunjungan

Tulisan Teratas


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.