Posts tagged ‘Kebijaksanaan’

Bukan Masalah

Seorang gadis kedapatan menangis di suatu senja tanpa diketahui sebab musababnya.

Si ayah lalu bertanya kepada si gadis, “Kenapa kamu menangis?”, si gadis tidak menjawab malah tambah keras nangisnya. Lalu ayahnya berkata sambil berteriak, “Kalau kamu terus menangis pergi kamu keluar dari rumah ini!!”

Si gadis dalam isak tangis karena takut diusir dari rumah mengatakan, “Saya hamil.. “.

“Ya Tuhan, siapa yang menghamili kamu?”, si gadis menjawab..

“Kakek ditengah hutan.”

“Astaga, orang durhaka, selama ini dia sangat kita hormati, sangat bijaksana, ternyata tega berbuat hal demikian…”

Waktu terus berlalu, akhirnya setelah 9 bulan, lahirlah bayi gadis itu, lalu ayah gadis itu beserta orang-orang sekampung pergi mendatangi kakek di tengah hutan itu.. Kakek itu tinggal di dalam gubuk bersama binatang-binatang peliharaannya (ada ayam, kerbau, kambing, bebek). Si ayah lalu berteriak, “Hei orang munafik keluar kau dari gubukmu…”

Kreek… krekk pintu gubuk terbuka, si kakek berjalan terseok-seok diiringi binatang-binatang peliharaannya.

Ayah si gadis berteriak, “Terimalah ini hasil dari kedurhakaanmu”, lalu si ayah melempar bayi si gadis itu.. dan…. hap.. si kakek dengan terkejut menangkap si bayi itu, dan bayi itu berhasil ditangkapnya tanpa terjatuh. Si kakek itu tidak bertanya apa-apa, dia hanya tersenyum dan menjawab, “No Problem, bukan masalah.”

Kemudian dia kembali masuk ke dalam gubuk reotnya.

Satu tahun berlalu, si gadis kedapatan tengah menangis lagi… si ayah yang melihatnya lalu bertanya lagi, “Kenapa lagi kau… kau hamil lagi……?”, Si gadis kembali menangis, dan setelah reda tangisnya dia berkata, “Saya telah memfitnah orang, yang menghamili saya bukan kakek ditengah hutan melainkan seorang pemuda tanggung yang melarikan diri dari tanggung jawab”.

Si ayah lalu berkata, “Ya Tuhan, jadi selama ini kita telah berburuk sangka terhadap kakek yang baik hati itu”.

Akhirnya si ayah beserta si gadis dan seluruh penduduk kampung kembali mendatangi kakek di tengah hutan.

Si ayah berteriak dari luar, “Kakek maafkan kami, kami telah salah menuduh engkau telah melakukan hal keji terhadap anak saya, karena ternyata bukan engkau yang melakukannya, maukah engkau memaafkan kami?”

krek krek krek, pintu gubuk terbuka, si kakek keluar diiringi binatang-binatang peliharaanya (ada ayam, kambing, bebek, kerbau) dan satu lagi seorang bocah berumur satu tahun. Si gadis yang melihat puteranya tersebut, kemudian berkata kepada si kakek, “Kakek, bolehkah saya membawa anak saya ini?”

Si kakek tersenyum dan menjawab, “No Problem, bukan masalah”

Akhirnya si gadis membawa puteranya tersebut pulang kembali kerumah bersama ayah dan seluruh penduduk kampung tersebut.

***

Sungguh indah bukan cerita tersebut, mengajarkan kita bagaimana menjadi orang merdeka, seperti si kakek, yang menghadapi masalah demi masalah tanpa beban. Kitapun diajar untuk dapat menjadi orang merdeka, jangan kita dipasung oleh belenggu-belenggu kehidupan yang sebenarnya sanggup untuk kita patahkan.

Jadilah orang merdeka, karena dengan merdeka kita dapat hidup damai dan dengan kedamaian kehidupan terasa indah.

December 5, 2009 at 6:49 am Leave a comment

Kitab Delapan Mata Angin

Ada seorang murid yang sudah bertahun-tahun belajar ilmu kebijakan dari seorang guru di sebuah pulau terpencil. Kini ia merasa telah cukup ilmu dan berniat untuk mengabdikan dirinya pada masyarakat di seberang pulau. Singkat kata, ia pamit pada sang guru dan meninggalkan pulau terpencil tersebut.

Beberapa lama kemudian ia mendirikan sebuah perguruan dan memiliki banyak murid pula. Teringat ia pada sang guru, ia ingin menunjukkan hasil pengabdiannya selama ini. Ia lalu menulis sebuah kitab yang berisi ajaran-ajaran kebijakan.

Kitab itu diberi judul “Kitab Delapan Mata Angin” karena bila orang mengamalkan isi kitab itu maka ia akan tetap tegar dalam kebenaran meski didera angin badai dari delapan penjuru mata angin. Ia mengutus seorang muridnya untuk mengantarkan kitab itu pada gurunya di seberang pulau.

Sang guru menerima kiriman “Kitab Delapan Mata Angin” dengan suka cita. Namun, setelah membaca isinya, tanpa terduga-duga beliau mencorat-coret sampul kitab itu dengan tulisan “Kamu tak lebih dari angin kentut belaka.”

Sang guru mengembalikan kitab itu. Betapa terkejutnya si murid ketika menerima dan membaca tulisan sang guru. Mukanya merah padam. Ia memutuskan untuk menemui gurunya dan meminta penjelasan apa maksud tulisan itu. Bergegas ia melepas tali perahu dan mendayung sendiri menemui gurunya.

Sesampai di sana, ia langsung bertanya pada gurunya, “Apa maksud guru menulis kata-kata kotor seperti ini?”

Jawab sang guru dengan kalem, “Lho… katanya kamu mampu bertahan dari gempuran angin badai yang datang dari delapan penjuru mata angin. Tapi, mengapa, hanya dengan tiupan angin kentut saja, sudah membuatmu terpental dari seberang sana ke pulau terpencil ini, heh..?”

Mendengar jawaban gurunya, ia langsung menyesali kesalahannya.

Setinggi apa pun kebijakan yang terucap di bibir atau tertulis di buku tak lebih berarti daripada yang terpatri dalam hati.

December 5, 2009 at 6:39 am Leave a comment

Kebijakan Sebuah Kata

Bukankah luar biasa bagaimana seorang yang memberikan gagasannya pada waktu dan tempat yang tepat dapat mengubah jalan sejarah hidupmu? Ini terjadi pada hidupku. Waktu aku berumur 14, aku menumpang dari Houston, Texas, melalui El Paso menuju California. Aku sedang mengikuti impianku, berkelana bersama matahari. Aku dariop-out dari sekolah menengah karena memiliki cacat-belajar dan ingin berselancar dia atas ombak terbesar di dunia, mula-mula di California, lantas di Hawaii, tempat tinggalku di kemudian hari.

Saat tiba di tengah kota El Paso, aku bertemu dengan seorang gelandangan tua di tikungan jalan. Ia melihatku berjalan, menghentikanku, lalu bertanya padaku waktu aku lewat. Ia bertanya apakah aku kabur dari rumah, mungkin karena aku kelihatan masih muda. Kukatakan padanya, “Tidak juga, Pak,” karena ayahku mengantarku ke jalan raya di Houston dan merestuiku dengan mengatakan, “Yang penting adalah mengikuti impianmu dan hati nuranimu, Nak”.

Pak gelandangan itu kemudian bertanya apakah aku mau dibelikan secangkir kopi. Aku bertanya padanya, “Tak usah, Pak, tapi kalau soda, aku mau”. Kami berjalan ke sebuah toko di pojok jalan dan duduk di bangku putar sambil menikmati minuman.

Setelah mengobrol selama beberapa menit, Pak gelandangan yang ramah itu menyuruhku mengikutinya. Ia berkata padaku bahwa ia ingin menunjukkan dan berbagi sesuatu yang hebat denganku. Kami berjalan beberapa blok sampai ke Perpustakaan Umum El Paso. Kami menaiki tangga depan dan berhenti di stand penerangan kecil. Di sin Pak gelandangan berbicara dengan seorang wanita tua yang suka tersenyum, dan bertanya padanya apakah dia mau mengawasi barang-barangku sebentar selagi aku dan dia masuk ke perpustakaan. Aku meninggalkan barang milikku pada nenek baik ini dan masuk ke dalam ruang belajar yang besar dan indah.

Pak gelandangan mula-mula mengajakku ke sebuah meja dan memintaku duduk dan menunggu sebentar sementara ia mencari sesuatu yang istimewa dalam rak buku. Tidak berapa lama kemudian, ia kembali mengepit dua buah buku tua dan menaruhnya di meja. Lalu ia duduk disebelahku dan berbicara. Ia mulai dengan beberapa pernyataan yang sangat istimewa yang mengubah hidupku.

Katanya, “Ada dua hal yang ingin saya ajarkan padamu, anak muda.”

“Nomor satu, jangan menilai buku dari sampulnya, karena sampul bisa menipumu.” Ia meneruskannya dengan berkata,”Kamu pasti mengira saya ini gelandangan, betul tidak, anak muda?” Kataku, “Eh, betul, rasanya, Pak.” “Anak muda, saya punya kejutan untukmu. Saya adalah salah seorang terkaya di dunia. Saya mungkin memiliki apa saja yang diinginkan orang. Saya berasal dari daerah Timur Laut dan memiliki apa saja yang dapat dibeli dengan uang. Tapi setahun yang lalu, istri saya meninggal, dan sejak itu saya banyak berpikir tentang hidup. Saya sadar bahwa ada beberapa hal yang belum pernah saya alami dalam hidup ini, salah satunya adalah apa rasanya hidup sebagai gelandangan di jalanan. Saya berjanji pada diri sendiri untuk melakukan hal itu selama setahun. Selama setahun ini, saya berkelana dari kota ke kota. Jadi, kamu lihat, jangan pernah menilai buku dari sampulnya, karena sampul bisa menipumu”.

“Nomor dua adalah belajar cara membaca, nak. Karena hanya ada satu hal yang tak dapat direnggut dari dirimu, yaitu kebijakanmu”. Pada saat itu, ia meraih ke depan mengenggam tangan kananku dan menaruhnya di atas buku yang diambilnya dari rak. Buku itu adalah buah tangan Plato dan Aristoteles – karya klasik abadi dari zaman kuno.

Pak gelandangan itu kemudian mengajakku kembali pada wanita tua yang tersenyum di dekat jalan masuk itu, menuruni tangga, dan kembali ke jalan dekat tempat kami bertemu tadi. Permintaan perpisahannya adalah agar aku tidak melupakan apa yang diajarkannya. Aku tak pernah lupa.

***

“Satu percakapan bersama orang bijak sama nilainya dengan belajar sebulan dengan membaca buku.”

- Peribahasa Cina -

December 3, 2009 at 5:28 am Leave a comment


Wisdom of The Month

Untaian Motivasi & Inspirasi

Hari-Hari yang Berharga

June 2012
M T W T F S S
« Apr    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Jumlah Kunjungan

  • 4,778 Kunjungan

Tulisan Teratas


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.