We Moved

Mohon maaf kepada pengunjung blog ini, saya memutuskan untuk memindahkan blog ini ke alamat yang baru :

rizukiarude.blogspot.com

Selamat membaca, thanks for your visit.

April 5, 2010 at 1:45 am Leave a comment

To Be Like Gede Prama

Gede PramaSaya kagum dengan tulisan-tulisan Pa Gede Prama, terasa memberi kesejukan, menyentuh, dan memberi sudut pandang baru dalam memandang kehidupan. Walaupun secara pribadi saya belum mengenal beliau, saya terpesona dengan pribadinya dan ingin suatu hari di hari tua saya menjadi seperti beliau.

Tidak perlulah menjadi matahari yang bisa menerangi semua orang. Cukuplah diri ini menjadi lilin yang bisa sedikit menerangi satu orang. Satu kebaikan cukup untuk membuat seseorang masuk surga jika Allah ridho. Tak perlu lah mengubah dunia, cukuplah mengubah diri sendiri. Pribadi yang mulia tak perlu bicara banyak, kehadirannya saja sudah cukup untuk menerangi.

Minggu ini saya sengaja memposting tulisan-tulisan Pa Gede Prama di blog saya, sebagai rasa kekaguman saya terhadap beliau, juga sebagai koleksi yang kapan saja, dimana saja bisa dibaca oleh saya maupun siapa saja ketika jiwa gundah.

Selamat Membaca, Selamat Terinspirasi

December 17, 2009 at 3:46 am 1 comment

Kita Tak Pernah Punya Hak Untuk Mengeluh

Jadilah pribadi yang hebat dengan tidak pernah mengeluh. Kadang kita merasa punya hak untuk mengeluh karena motor kita mogok di jalan dah harus mendorong sampai satu kilometer. Tak pernah terlintas dalam benak kita bahwa seorang pria tua renta masih harus mengayuh sepedanya belasan bahkan puluhan kilometer setiap hari, melewati teriknya panas dan guyuran hujan, hanya untuk mencari beberapa ribu rupiah. Yang itu semua dijalaninya tanpa ada kata-kata protes pada Sang Maha Kuasa.
Dilihat dari sudut pandang ini, kita yang tiap hari kerja di gedung yang megah, di ruang ber-AC, dan penghasilan berkali-kali lipat UMR. Kita bukanlah apa-apa dibanding lelaki tua renta yang tiap hari bersepeda dari ke kampung ke kampung menjajakan jualannya, hanya mengenakan pakaian usang yang entah sudah berapa tahun, sendal jepit, dan topi tuanya. Dalam hal rasa syukur kita kalah telak dengan sang lelaki tua renta dengan sepedanya.

December 11, 2009 at 3:10 am 8 comments

Terlalu Sibuk Untuk Membaca!

Semenjak punya menikah, apalagi setelah punya bayi. Rasa-rasanya saya kurang akrab lagi dengan yang namanya membaca, entah itu buku atau artikel-artikel yang dipungut dari internet. Saya jadi bertanya… lalu waktu 24 jam itu habis untuk apa saja? Kalau menyisihkan waktu sejam sehari untuk membaca saja tidak sempat.

Saya ingin anak saya hobi membaca, melahap buku seperti melahap cokelat atau es krim. Kalau begitu mulai sekarang saya berusaha membangkitkan kebiasaan membaca yang pernah tenggelam ditelan kemapanan.

December 10, 2009 at 6:40 am Leave a comment

Sudahkah Aku Menjadi Seorang Ayah?

Hari ini tanggal 9 Desember 2009, genap 2 bulan sudah aku menjadi seorang ayah. Dari sudut pandang biologis aku telah menjadi seorang ayah, namun dari sudut pandang pola pikir dan perilaku, sudahkah diri ini menjadi sosok ayah? Ada banyak makna tersembunyi dalam deretan empat huruf tersebut. Menjadi ayah berarti menjadi lebih bertanggung jawab dalam hal mencari rezeki yang halal dan berkah, menjadi ayah berarti menjadi sosok yang bisa diteladani, menjadi ayah berarti menjadi pemimpin yang mempunyai visi, misi dan tindakan yang jelas untuk masa depan keluarga. Dan mungkin ada beribu makna lagi.

Kini aku bukan pasangan muda lagi, apalagi bujangan. Tidak boleh memikirkan hanya dirinya sendiri. Setiap tindakan sebisa mungkin memberi kontribusi kepada keluarga. Kadang aku merasa malu ketika mendapatkan diriku masih main game untuk kesenangan sendiri, sementara aku tahu waktu yang terpakai untuk main game bisa digunakan untuk membantu pekerjaan rumah tangga, atau belajar tentang menjadi suami atau ayah yang baik, atau belajar untuk meningkatkan skill untuk meningkatkan daya saing. Kadang aku menyayangkan diriku sendiri yang masih belum bisa konsisten dalam melakukan yang terbaik di rumah maupun di tempat kerja.

Sadarlah…. kau bukan bujangan lagi, kau kini seorang AYAH!

December 9, 2009 at 1:48 am 1 comment

Kebahagiaan Ditentukan Di Awal

Seorang lelaki berumur 92 tahun yang mempunyai selera tinggi, percaya diri, dan bangga akan dirinya sendiri, yang selalu berpakaian rapi setiap hari sejak jam 8 pagi, dengan rambutnya yang teratur rapi meskipun dia buta, masuk ke panti jompo hari ini.

Istrinya yang berumur 70 tahun baru-baru ini meninggal, sehingga dia harus masuk ke panti jompo. Setelah menunggu dengan sabar selama beberapa jam di lobi, dia tersenyum manis ketika diberi tahu bahwa kamarnya telah siap.

Ketika dia berjalan mengikuti penunjuk jalan ke elevator, aku menggambarkan keadaan kamarnya yang kecil, termasuk gorden yang ada di jendela kamarnya.Saya menyukainya, katanya dengan antusias seperti seorang anak kecil berumur 8 tahun yang baru saja mendapatkan seekor anjing.

Pak, Anda belum melihat kamarnya, tahan dulu perkataan tersebut. Hal itu tidak ada hubungannya, dia menjawab.

Kebahagiaan adalah sesuatu yang kamu putuskan di awal. Apakah aku akan menyukai kamarku atau tidak, tidak tergantung dari bagaimana perabotannya diatur tapi bagaimana aku mengatur pikiranku.

Aku sudah memutuskan menyukainya. Itu adalah keputusan yang kubuat setiap pagi ketika aku bangun tidur.

Aku punya sebuah pilihan; aku bisa menghabiskan waktu di tempat tidur menceritakan kesulitan-kesulitan yang terjadi padaku karena ada bagian tubuhnya yang tidak bisa berfungsi lagi, atau turun dari tempat tidur dan berterima kasih atas bagian-bagian yang masih berfungsi.

Setiap hari adalah hadiah, dan selama mataku terbuka, aku akan memusatkan perhatian pada hari yang baru dan semua kenangan indah dan bahagia yang pernah kualami dan kusimpan. Hanya untuk kali ini dalam hidupku. Umur yang sudah tua adalah seperti simpanan di bank. Kita akan mengambil dari yang telah kita simpan.

December 8, 2009 at 12:58 am 1 comment

Ada Kasih Di Matamu

Sore itu adalah sore yang sangat dingin di Virginia bagian utara, berpuluh-puluh tahun yang lalu. Janggut si orang tua dilapisi es musim dingin selagi ia menunggu tumpangan menyeberangi sungai. Penantiannya seakan tak berakhir. Tubuhnya menjadi mati rasa dan kaku akibat angin utara yang dingin.

Samar-samar ia mendengar irama teratur hentakan kaki kuda yang berlari mendekat di atas jalan yang beku itu. Dengan gelisah ia mengawasi beberapa penunggang kuda memutari tikungan. Ia membiarkan kuda yang pertama lewat, tanpa berusaha untuk menarik perhatian. Lalu, satu lagi lewat, dan satu lagi. Akhirnya, penunggang kuda yang terakhir mendekati tempat si orang tua yang duduk seperti patung salju. Saat yang satu ini mendekat, si orang tua menangkap mata si penunggang, dan berkata, “Pak, maukah anda memberikan tumpangan pada orang tua ini ke seberang? Kelihatannya tak ada jalan untuk berjalan kaki.”

Sambil menghentikan kudanya, si penunggang menjawab, “Tentu. Naiklah.”

Melihat si orang tua tak mampu mengangkat tubuhnya yang setengah membeku dari atas tanah, si penunggang kuda turun dan menolongnya naik ke atas kuda. Si penunggang membawa si orang tua itu bukan hanya ke seberang sungai, tapi terus ke tempat tujuannya, yang hanya berjarak beberapa kilometer.

Selagi mereka mendekati pondok kecil yang nyaman, rasa ingin tahu si penunggang kuda mendorongnya untuk bertanya, “Pak, saya lihat tadi bapak membiarkan penunggang kuda lain lewat tanpa berusaha meminta tumpangan. Saya ingin tahu kenapa pada malam musim dingin begini bapak mau menunggu dan minta tolong pada penunggang terakhir. Bagaimana kalau saya tadi menolak dan meninggalkan bapak di sana?”

Si orang tua menurunkan tubuhnya perlahan dari kuda, memandang langsung mata si penunggan kuda, dan menjawab, “Saya sudah lama tinggal di daerah ini. Saya rasa saya cukup kenal dengan orang.” Si orang tua melanjuntukan, “Saya memandang mata penunggang yang lain, dan langsung tahu bahwa di situ tidak ada perhatian pada keadaan saya. Pasti percuma saja saya minta tumpangan. Tapi waktu saya melihat ke matamu, kebaikan hati dan rasa kasihmu terlihat jelas. Saya tahu saat itu juga bahwa jiwamu yang lembut akan menyambut kesempatan untuk memberi saya pertolongan pada saat saya membutuhkannya.”

Komentar yang menghangatkan hati itu menyentuh si penunggang kuda dengan dalam. “Saya berterima kasih sekali atas perkataan bapak”, ia berkata pada si orang tua. “Mudah-mudahan saya tidak akan sibuk mengurus masalah saya sendiri hingga saya gagal menanggapi kebutuhan orang lain dengan kasih dan kebaikan hati saya.”

Seraya berkata demikian, Thomas Jefferson si penunggang kuda itu, memutar kudanya dan melanjuntukan perjalanannya menuju ke Gedung Putih.

December 8, 2009 at 12:52 am Leave a comment

Older Posts


Wisdom of The Month

Untaian Motivasi & Inspirasi

Hari-Hari yang Berharga

September 2016
M T W T F S S
« Apr    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Jumlah Kunjungan

  • 8,674 Kunjungan

Tulisan Teratas